Ayat pertama yang diturunkan Allah swt., kepada nabi Muhammad saw melalui
perantaraan malaikan jibril adalah surah al alaq ayat 1-5 yang salah satu ayat
pertamanya berbunyi Iqra’ yang berarti bacalah. Menurut M. Quraish shihab dalam tafsirnya al misbah menyimpulkan bahwa makna dari kata Iqra adalah digunakan dalam arti membaca,
menelaah, menyampaikan dan sebagainya dan karena objeknya bersifat umum, objek
kata tersebut mencakup segala yang dapat terjangkau, baik ia merupakan bacaan
suci yang bersumber dari Tuhan maupun bukan, baik ia menyangkut ayat-ayat
tertulis maupun yang tidak tertulis.

Perintah membaca dalam ayat pertama tersebut memberikan kepada kita akan
pentingnya membaca baik secara tekstual maupun kontekstual. Karena maju
mundurnya suatu bangsa adalah terletak pada rajinnya dia membaca. Semakin
banyak buku yang dibaca maka, semakin banyak ilmu yang dia dapat. Tak ada
satupun orang yang sukses di dunia ini tanpa membaca baik membaca secara
tekstual maupun membaca secara kontekstual dengan membaca pengalaman orang lain
yang jatuh bangun gagal sampai dia menjadi sukses.
Sebut saja di sini Jalaluddin Rahmat, seorang pakar komunikasi dalam
bukunya Retorika Modern,menyampaikan bahwa selama tiga tahun, 1976-1979, ia ditugaskan untuk
mengajarkan mata kuliah retorika, dimana materi tersebut tidak pernah ia dapati
sebelumnya selagi mahasiswa. Maka, ia melakukan proses “pencarian” yaitu
mencari bahan-bahan retorika yang mutakhir—membaca buku dan jurnal—karenanya,
berangsur-angsur semakin lama ia semakin mencintai retorika. Oleh sebab itulah
dia akhirnya menjadi pakar retorika (hal. 42-43).
Bagi mereka yang tidak sempat menempuh jalan pendidikan formalpun ataupun
tidak bisa menyelesaikan pendidikan secara formal ternyata bisa juga menjadi
sukses dengan cara membaca. Misalnya seorang sastrawan yang bernama Ajib Rosidi
kelahiran Jatiwangi, Majelangka, pada tanggal 31 Januari 1938 ini telah menulis
sejak remaja dan kini telah menerbitkan lebih dari seratus judu buku berupa
kumpulan sajak, roman, drama, biografi, kumpulan, essay, dan memoar.
Ajib Rosidi berani nekat untuk drop out dari taman Madya (SMA) karena pada waktu itu dia mendengar berita dari
surat kabar bahwa bahan ujian bocor. Hal tersebut diakibatkan ada orang yang
mengeluarkan banyak orang untuk menyogok pejabat yang bersangkutan agar dapat
memperoleh bahan ujian sebelum waktunya. Atas kejadian tersebut dia
berkesimpulan bahwa “orang-orang tersebut menggantungkan hidupnya pada ijazah,
untuk mendapatkan ijazah dia mau bermain curang serta mengeluarkan uang”.
Kemudian dia memutuskan untuk tidak mengikuti ujian dan ingin membuktikan bisa
hidup tanpa ijazah. Seiring dengan perjalanan waktu disertai dengan upaya
kesungguhannya untuk terus menerus belajar dan membaca. Akhirnya dia menjadi
sastrawan terkenal di Indonesia (hal. 86).
Buku setebal 108 halaman ini memberikan kita inspirasi tentang manfaat dari
membaca buku sehingga mereka sukses karena sering membaca. Selain tokoh-tokoh
terkenal diatas masih banyak lagi tokoh lain yang sukses karena membaca seperti
Emha Ainun Najib, BJ Habibie, Andrie Wongso, Rhenald Kasali, Anis Badiswedan,
Azzumardi azra dan lain-lain.
Maka, oleh sebab itulah baca dan miliki buku ini. Sehingga kita termotivasi
untuk lebih giat lagi membaca setelah membaca kisah orang-orang sukses
tersebut. Alhasil, kita pun terpengaruh menjadi sukses nantinya dikemudian hari
berkat membaca.
Selamat membaca....
============================================================
Tulisan ini di copas dari http://www.rimanews.com/read/20140124/138699/sukses-karena-membaca, semoga isi dari tulisan di atas bisa menjadi inspirasi untuk kita semua untuk lebih melirik buku-buku terutama buat adek-adek kita yang masih usia remaja dan tentunya untuk kita semua....
Sukses untuk kita semua :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar